Thursday, July 30, 2015

{ S a l e m b a D e p o k }

"Kamu kuliah di FKUI? Wah, di Salemba ya berarti?"
    Sejak saya diterima menjadi mahasiswa FKUI setahun yang lalu, pertanyaan tersebut mungkin telah saya dapatkan ribuan kali, terutama saat saya mengunjungi saudara-saudara saya saat Idul Fitri kemarin (oh iya, selamat lebaran semuanya!). Yang saya bingungkan sih, memangnya fakta bahwa kegiatan akademik FKUI terasingkan sendiri di Salemba (setidaknya sebelum tahun 2013) se-terkenal itu ya? 

   Ya, sebelum tahun 2013, semua kegiatan akademik, baik bagi mahasiswa pre-klinik maupun mahasiswa klinik (koas) bertempat di kampus UI Salemba. Kemudian, mulai tahun ajaran 2013/2014, perkuliahan pre-klinik mulai hijrah ke kampus UI Depok, ditandai dengan mahasiswa FKUI angkatan 2013 yang menjadi angkatan pertama menjalani perkuliahan di Depok dan satu-satunya angkatan yang menempati gedung Rumpun Ilmu Kesehatan UI Depok pada tahun ajaran tersebut, barulah saat berganti tahun ajaran 2014/2015, semua mahasiswa yang masih dalam masa pre-klinik (yaitu angkatan 2012, 2013, 2014) pindah ke Depok.


    Kembali ke pertanyaan yang menjadi 'header' di post saya ini. Hehe, saya juga pinginnya sih begitu, om/tante. Saya sih juga pinginnya di Salemba aja kuliahnya. Mengapa saya lebih ingin kegiatan akademik pre-klinik FKUI bertempat di Salemba? Pertama dan yang paling utama, biar gak ngekost. Setidaknya, Salemba masih merupakan bagian dari Jakarta, dan rumah saya terletak di pinggir kota Jakarta, maka dari itu saya tidak akan ngekost jika perkuliahan bertempat di UI Salemba. Walaupun saya juga tahu sih, Jakarta Pusat macetnya gila-gilaan, tapi saya sudah terbiasa dengan macetnya Tol Kebon Jeruk selama tiga tahun berkat masa SMA saya di Jakarta. Kedua, atmosfir sekolah kedokteran di Salemba masih terasa sekali. Mungkin karena bersebelahan dengan RSCM. Ketiga, karena alasan aksesibilitas. Mau ke KFC? Tinggal nyebrang. Mau ke bioskop atau jalan-jalan ke mall? Banyak pilihannya. Ke Metropole deket, ke Kokas lumayan deket, hehe. Beda dengan kampus UI Depok, pilihannya cuma Margo dan Detos.

    Entah kenapa, sampai sekarang saya selalu excited apabila mengunjungi kampus Salemba. Baru-baru ini saya ke Salemba untuk bertemu dengan PA dan mengurus surat untuk suatu keperluan. Hampir setiap kali saya ke Salemba saya duduk di lobby FKUI memandangi plakat Tritura '66 terpajang di dinding sambil membayangkan betapa bersejarahnya tempat ini, ataupun sekadar melihat lapangan multifungsi–yang sudah disegel dan penuh runtuhan bangunan– sambil mengingat cerita tante saya yang ditugaskan mencari semut di lapangan tersebut saat ospek FKUI tahun 1980an. Walaupun hanya sebagian, gedung ini sepertinya terlalu berharga untuk diruntuhkan. Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba 6.


    Walaupun begitu, saya tetap senang bisa kuliah di Depok; kosan saya terletak persis di depan gedung RIK, lebih mudah bertemu dengan teman SMA saya di fakultas lain, melihat kebiasaan mahasiswa rumpun ilmu kesehatan selain fakultas kedokteran, dan bisa kenal dengan banyak mahasiswa dari fakultas lain di rumpun ilmu kesehatan. Fasilitas di kampus UI dan RIK yang superior juga membuat saya nyaman kuliah di UI Depok. Walaupun Depok cukup terkenal dengan sinar matahari yang super terik, lindungan pohon-pohon di kampus UI membuat kampus sangat rindang. I think I'll just enjoy being a part of one of the first FKUI batches to study at UI Depok.



Saturday, May 02, 2015

Menjadi Mahasiswa FKUI Tingkat 1

Wah udah lama ya gak ngepost di blog! Hello readers :) alhamdulillah gak kerasa gue udah semester 2 di FKUI, bahkan sebulan lagi semester 2 ini selesai dan gue bakal menjadi mahasiswa tingkat 2! :") time flies so fast. Ok jadi post ini gue hanya sekadar memberikan gambaran tentang kehidupan tingkat 1 di FKUI.

Jadi akhir-akhir ini gue sering dapet question di askfm, mention di twitter, bahkan banyak juga yang personal chat LINE gue (and it's really creepy... like where do they get my LINE ID) asking how it feels to be a medical student in FKUI, pelajarannya gimana, kehidupannya gimana, dan lain sebagainya. Ternyataaa banyak sekali di antara mereka yang masih kelas 10 ataupun kelas 11... cukup ambis hebat sekali ya punya keingintahuan yang tinggi! :") so here are the frequently asked questions on all of my social accounts...

Kak, mata kuliah di FKUI apa aja sih?

Seperti sebagian besar FK di universitas lainnya di Indonesia, FKUI pake sistem modul/blok. Satu modul menghabiskan waktu sekitar 4-6 minggu. Nah, mahasiswa FKUI baru masuk modul khusus fakultas kedokteran pas semester 2. Pas semester 1, mata kuliahnya masih berupa mata kuliah wajib universitas (semua fakultas belajar matkul itu) atau wajib rumpun ilmu kesehatan (which means belajarnya bareng FKG, FIK, FKM, dan Farmasi). Untuk lebih lengkapnya, nih gue kasih list matkul pas tingkat 1

Semester 1 (20 sks)

  • Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi B (MPKT B) – Wajib Universitas (6 sks)
  • MPK Bahasa Inggris – Wajib Universitas (3 sks)
  • MPK Agama – Wajib Universitas (2 sks)
  • MPK Olahraga/Seni – Wajib Universitas (1 sks)
  • Ilmu Biomedik Dasar – Wajib Fakultas RIK (4 sks)
  • Komunikasi Kesehatan – Wajib Fakultas RIK (2 sks)
  • Etika dan Hukum dalam Bidang Kesehatan – Wajib Fakultas RIK (2 sks)


Semester 2 (21 sks)

  • Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A (MPKT A) – Wajib Universitas (6 sks)
  • Metodologi Penelitian Kesehatan – Wajib Fakultas RIK (3 sks)
  • Kolaborasi dan Kerjasama Tim Kesehatan I – Wajib Fakultas RIK (2 sks)
  • Pengelolaan Bencana – Wajib Fakultas RIK (2 sks)
  • Sel, Genetika, dan Biologi Molekuler (4 sks)
  • Imunologi Kedokteran (2 sks)
  • Neurosains (2 sks)


Naaah, 3 poin yang di bold itulah modul FK. FYI, 3 modul itu jalannya gantian, jadi dalam satu semester gak pelajarin 3 modul itu secara bersamaan. Dari bulan Februari-April belajar modul SGBM, April-Mei belajar modul Imunologi, Mei-Juni belajar modul Neurosains. Sekarang gue baru selesai modul Imunologi dan 8 hari lagi gue bakal masuk modul Neurosains!

Kak, di FKUI bisa aktif organisasi di luar perkuliahan gak?

Bisa banget! 90% angkatan gue ikut organisasi, termasuk gue. Organisasi yang gue ikuti sekarang ada 2, BEM dan CIMSA. Di BEM, gue jadi staff Dept. Kajian dan Aksi Strategis dan di CIMSA gue masih jadi newcomer a.k.a. dalam proses kaderisasi.

Kak, tidurnya jam berapa sampe jam berapa kalo lagi hari kuliah?

Tergantung tugasnya sebanyak apa. Kalo tugasnya lagi banyak banget, gue bisa tidur jam 12 sampe jam 1. Kalo lagi gak banyak-banyak amat, seringnya tidur jam 10. Tapi enaknya kuliah bisa bangun siang dong! Kan kuliahnya seringnya mulai jam 8, gak jam setengah 7 kayak masuk SMA :p

Selanjutnya...... pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah......

Kak, SPP di FKUI berapa?

Bagi kalian yang ingin masuk FKUI, berbahagialah karena FKUI merupakan salah satu fakultas kedokteran dengan biaya paling murah di Indonesia. Ya iyalah, FK mana lagi yang ngasih SPP paling tinggi Rp7,5juta???? Dan bahkan ada lho temen gue yang satu semesternya cuma bayar 200ribu :")

Yak sepertinya hanya itu saja sih pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Kalo kalian mau tanya lebih lanjut, tanya aja di ask.fm/yusufananda atau mention Twitter @yusufananda. Have a great day!

Tuesday, August 26, 2014

SBMPTN 2014, Getting Accepted as an FKUI Student.

(lanjutan dari post sebelumnya, Cerita Perjuangan Kelas XII: SNMPTN 2014)

Setelah mencoba bangkit dari keterpurukan karena tidak lolos SNMPTN 2014, gue langsung membuka website SBMPTN 2014 di hari itu juga. Gue mengisi formulir biodata dan langsung mendapatkan PIN. Setelah mendapatkan PIN, gue mencoba masuk step selanjutnya yaitu upload foto. Kebetulan, gue gak terlalu ahli mengedit foto jadi gue belum mau lanjut. Ditambah lagi, ada 'ancaman' di laman nya, "Apabila foto yang anda unggah tidak sesuai dengan persyaratan, Anda tidak akan diikutkan dalam seleksi SBMPTN 2014." Nah lho, serem kan.

Di sisa hari yang menyedihkan itu, gue mencoba berdiskusi dengan orang tua gue prodi dan PTN mana lagi yang akan menjadi pilihan gue di SBMPTN 2014 ini. Untuk prodi, gue bingung entah gue harus memilih Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Gigi atau hanya Pendidikan Dokter. Setelah berpikir panjang, akhirnya 3 pilihan di SBMPTN itu akan gue isi Pendidikan Dokter semua, dan gue akan memilih Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Gigi di ujian-ujian mandiri PTN saja.

Masalah pemilihan prodi selesai. Sekarang tinggal tersisa masalah pemilihan PTN. Dari dulu sih, rencananya gue pingin milih FK UI, FK UGM, dan FK UNS. Gue mencoba mengomunikasikan rencana gue itu dengan orang tua gue, tapi mereka saranin untuk ngambil PTN lain selain UNS. Mereka bilang, "Kalo emang niat milih UNS, mendingan pilih UNS dari pas SNMPTN aja." Huft.. iya sih. Mereka menyarankan untuk mengganti FK UNS dengan FK UB (Universitas Brawijaya). Akhirnya gue menuruti saran mereka.

Namun, kegalauan gue gak berhenti sampe situ loh. Tiba-tiba, tante gue menelepon gue dan menyarankan jangan memilih FK UI dan FK UGM sekaligus karena kalau terlempar dari FK UI, FK UGM pasti gak bakal mau nerima, dan sebaliknya. Sarannya, untuk pilihan pertama pilih salah satu di antara FK UI dan FK UGM; untuk pilihan kedua, pilih salah satu di antara PTN lain yang masih di berada Pulau Jawa (UNS/UB); untuk pilihan ketiga, pilih salah satu di antara PTN di luar Jawa (Unand, Unsri, Udayana). Namun akhirnya karena beberapa alasan, gue tetep di keputusan pertama gue; FK UI, FK UGM, dan FK UB. Gue masih percaya FK UGM mau dinomorduakan di SBMPTN karena ada kakak kelas gue alumni 78 2013 diterima di FK UGM yang notabene merupakan pilihan kedua dia di SBMPTN 2013 tahun lalu. Dia memilih FK UI di pilihan pertama, FK UGM di pilihan kedua, dan Psikologi Unpad di pilihan ketiga, dan dia diterima di pilihan kedua yaitu FK UGM.

Keesokan harinya ada acara wisuda 78 2014. Duh, niatnya mau gak ikut wisuda aja karena masih tersisa kesedihan di hari sebelumnya saat pengumuman SNMPTN. Hal yang paling menghantui gue adalah saat temen-temen yang diterima SNMPTN diwisuda nanti, MC mengumumkan ke penonton "(nama siswa)! Diterima di (prodi dan PTN)." Pasti nyesek banget pas denger gituan. Tapi berhubung udah bayar dan udah nyewa jas juga, akhirnya gue ikut juga dan ternyata gak seburuk yang gue bayangkan sih. Pas wisuda juga gue dapet penghargaan gara gara jadi peraih nilai UN ke-2 tertinggi di sekolah, at least bisa jadi obat hati karena gak keterima SNMPTN lah, hehehe..

Hari selanjutnya setelah wisuda, akhirnya gue melanjutkan prosedur pendaftaran SBMPTN. Berhati-hati mengunggah pas foto, memilih PTN dan program studi, membayar biaya pendaftaran, dan mencetak kartu peserta. Selesai urusan pendaftaran, plong rasanya. Tahapan selanjutnya ya tinggal usahanya :)


Hari-hari selanjutnya adalah lanjutan perjuangan gue. Bedanya, gue lebih serius belajarnya dibanding saat masih digantung panitia SNMPTN. Di SBMPTN ini, faktor keberuntungan bermain dengan porsi jauh lebih sedikit dibanding SNMPTN. Yang menentukan cuma usaha dan doa kita. Jika dua hal itu udah dilakuin dengan baik, faktor keberuntungan pasti akan mengikuti.

Program intensif SBMPTN 2014 setelah pengumuman SNMPTN 2014 terasa lebih intensif. Gue lebih serius belajar, gue lebih sering ikut tambahan pelajaran sampai malam, dan lebih rajin ibadah juga. Gue selalu termotivasi kalo inget kalimat "Usahamu tidak akan pernah mengkhianatimu." Ranking try out SBMPTN gue naik dibandingkan sebelum pengumuman SNMPTN (sebetulnya karena orang-orang yang biasanya dapet ranking tinggi-tinggi udah keterima SNMPTN juga hahaha), begitu pula nilainya. Setelah nyampe rumah, gue juga biasanya lanjut lagi ngerjain buku-buku SBMPTN yang terlantar sebelum pengumuman SNMPTN. Intinya, gue lebih rajin setelah pengumuman SNMPTN. :P

Hari demi hari berlalu, try out demi try out berlalu, tambahan pelajaran demi tambahan pelajaran berlalu. Gak kerasa udah hari Sabtu tanggal 14 Juni 2014, hari terakhir program intensif SBMPTN dan hari terakhir belajar di O-Friends bagi sebagian siswa juga. Bagi yang ikut program khusus SIMAK UI (contohnya gue) sih sehabis SBMPTN juga masih belajar di O-Friends sampe SIMAK UI selesai. Di hari Sabtu itu ada doa bersama. Sedih... apalagi pas dibilangin "Saat kalian sukses nanti, O-Friends mungkin akan menjadi sebagian kecil dari kisah perjuangan kalian," "Kami lebih bangga dengan kalian yang lulus di SBMPTN daripada yang lulus di SNMPTN karena kalian benar-benar merasakan perjuangan yang sebenarnya, kalian benar-benar mengalahkan beribu saingan kalian lewat ujian tulis." Sedih mengingat gue udah belajar di O-Friends dari kelas XI dan O-Friends udah kayak rumah kedua gue dari kelas XI :")

H-1 SBMPTN. Di hari Senin itu, gue masih belajar dari pagi. Bahkan, gue bela-belain belajar di dalem mobil di tengah-tengah kemacetan Jakarta. Jadi ceritanya, di sore harinya gue mau cek ruang ujian di lokasi tempat gue ujian SBMPTN keesokan harinya, yaitu di SMPN 4 Jakarta. Nah, gue baru nyampe jam setengah 6 sore. Sialnya, pas gue nyampe, gerbangnya dikunci! -_- gue ngeliat ada beberapa anak yang mau masuk juga tapi gak bisa, mereka sambil bawa kartu peserta SBMPTN jadi bisa dipastikan mereka survey juga kayak gue tapi gak bisa karena gerbangnya dikunci. Yaudah, apa daya kalo gerbangnya dikunci. Akhirnya gue jemput nyokap gue aja dan hal yang lebih menyebalkan terjadi. Gue lupa ngasitau sopir gue ada jalan alternatif ke kantor nyokap gue supaya gak macet dan gue baru inget pas udah kejebak macet. Yaudah alhasil gue belajar di dalam mobil di tengah-tengah kemacetan Jakarta :) jam 10 malem gue baru sampe rumah dan udah puyeng banget gara-gara terlalu lama baca di dalem mobil. Yaudah gue cepet-cepet beres-beres dan gue langsung tepar.

SELASA, 17 JUNI 2014. D-DAY. SBMPTN 2014!

Hari-H. Gue telat bangun. Harusnya gue berangkat jam 5, eh gara gara telat bangun jadinya berangkat jam setengah 6 :" kalo gak macet dan agak ngebut dikit sih sebetulnya cepet, paling jam 6 udah nyampe. Gue berangkat bareng bokap dan nyokap dan nantinya gue bakal ditungguin sama bokap berhubung nyokap lagi gak bisa cuti. Nah sampe di Senayan nyokap turun dari mobil mau ke kantornya, gue minta maaf sambil minta doa gitu kan, duh berasa mau ke medan perang beneran deh pokoknya... Yaudah sampe deh lokasi tes gue, SMPN 4 di daerah Gambir. Bener kan estimasi gue ternyata nyampe jam 6. Gue masuk ke sekolahnya buat ngecek lokasi ruangan tes, ternyata ada di lantai 3. Pas ngeliat posisi tempat duduk gue, duh ternyata gue duduk persis di depan pengawas! Untung gue gak ada niat nyontek jadi gak ada perasaan deg-degan sama sekali lah ya hahaha :p setelah ngeliat ruang tes, gue balik lagi ke mobil buat review soal-soal latihan lagi. Nekat banget ya. Setelah sekitar 20 menit mencoba mencerna soal-soal latihan, gue ngerasa kepala gue pusing banget. Parah banget pusingnya. Mungkin campuran antara efek terlalu deg-degan dan efek baca di dalam mobil. Akhirnya gue menyerah, daripada gue nanti ngerjain soal sambil puyeng mendingan gue berhenti.

Sekitar 10 menit sebelum bel, gue akhirnya keluar dari mobil, minta maaf sama minta doa supaya dilancarkan ke bokap dan masuk sekolahnya lagi. Gue nunggu di luar ruangan, dan kerjaan gue saat itu cuma berdoa sama minum air putih biar sisa sisa pusing abis belajar tadi agak hilang. Gue nengok kanan kiri, duh pada belajar semua. Daripada nganggur akhirnya gue dengerin anak sebelah gue yang lagi ngejelasin ke temennya materi tentang Fluida. Oh iya, SBMPTN tahun ini cuma diselenggarakan dalam sehari. Jadwalnya TKD Saintek/Soshum, setelah itu TKPA. Bel tanda masuk akhirnya berbunyi, gue naro tas gue di depan kelas dan membawa papan jalan, alat tulis, kartu peserta SBMPTN, fotocopy SKHUN, dan berkas-berkas lainnya ke meja gue. Dua pengawas masuk ke ruangan gue, satu orang sepertinya ibu guru, dan satu orang mahasiswi UI (dilihat dari jaket kuning dan makaranya). Sang ibu guru meminta anak di sebelah gue mimpin doa (untung bukan gue). Setelah berdoa, ibu guru dan kakak mahasiswi UI membuka segel dan langsung membagi lembar jawaban dan soalnya ke peserta ujian. Saat dapet lembar jawabannya, gue langsung ngisi identitas. Suasana saat semua sedang mengisi identitas itu aman dan tentram..... sampai seorang bapak-bapak dengan tampang yang agak menyebalkan datang ke ruangan. Sepertinya dia ketua panitia di lokasi ujian ini. Kata-kata terlontar dari mulutnya,

"Perhatian semuanya, dilarang memakai papan ujian saat mengerjakan soal SBMPTN ini."

What the hell? Pingin rasanya gue marah-marahin bapak itu saat gue sadar bahwa meja gue kondisinya kurang kondusif. Ibu guru pengawas pun mencoba kompromi dengan bapak itu, "Tapi Pak, beberapa meja agak kurang kondusif kalo gak pake papan ujian." "Iya Bu gapapa, ini agar menyamakan aturan di lokasi ujian ini. Semua ruangan saya larang untuk memakai papan ujian kok. Kalau mejanya kurang kondusif, kalian bisa memakai kartu ujian kalian sebagai alasnya. Sekarang saya minta semua papan ujian dikumpulkan ya."

Menyebalkan sekali bapak ini. FYI, menurut beberapa guru gue waktu SD, yang namanya alas untuk LJK itu harus keras. Kalo alasnya kartu ujian alias kertas, ya itu namanya bukan alas LJK dong? -_- mendingan gue nekat menjadikan meja gue yang agak bergelombang ini buat alas daripada pake kartu peserta SBMPTN. Akhirnya, gue lanjut mengisi identitas sambil mikir-mikir semua bulatan ini bakal terbaca atau enggak... Gak konsen deh pokoknya.

Setelah mengisi identitas, gue langsung membuka lembar soal berhubung diperbolehkan langsung mengerjakan setelah selesai mengisi identitas tanpa harus menunggu bel mulai mengerjakan. Jeng-jeng-jeng. Gue mencoba memeriksa kelengkapan soal tanpa membaca soal-soal itu. Setelah mengecek dan semuanya lengkap, gue langsung membuka halaman soal Biologi yang notabene menjadi bidang studi terakhir di soal TKD Saintek (nomor 46-60). Sebagian soal merupakan soal hafalan, bukan soal analisis. Gampang gampang susah lah ya. Nomor awal-awal lumayan gampang, beberapa soal hafalan, terdapat satu nomor soal analisis berupa grafik tapi gak terlalu susah. Nah makin ke belakang, makin susah ternyata, apalagi soal yang berupa pernyataan sebab akibat dan pernyataan 1234 (dimana ada 4 pertanyaan dan kita harus memilih pernyataan mana saja yang benar). Paling susah ya yang model terakhir, yang 1234. Di model soal itu semuanya berupa analisis. Malah ada materi yang gak pernah diajarin pas SMA. Jadi ada 4 gambar potongan fragmen DNA, nah terus ada 4 pernyataan, ada yang berhubungan dengan berat molekul, ada yang berhubungan dengan kekerabatan. Duh susah pokoknya. Setelah bolak-balik halaman, ngubek-ngubek mencoba mencari maksud dari soal tersebut, ternyata gue mengerjakan 10 dari 15 soal Biologi. Alhamdulillah.

Setelah selesai mengerjakan soal Biologi, akhirnya dari halaman paling belakang gue langsung move on ke halaman paling depan setelah halaman petunjuk umum. Soal Matematika IPA. Cuma 3 kata kok yang terpikirkan oleh gue saat mengerjakan soal Matematika IPA; "INI SOAL APAAN?" Benar-benar susah. Yang gampang ya agak gampang, yang susah ya susah banget. Soal yang lumayan gampang ya ada soal Matriks, Vektor, dan soal Barisan Aritmetika & Geometri. Ada satu soal yang balik ngerjain gue, soal Limit. Gue itung jawabannya 1/7, gue cari jawabannya gak ada di pilihan. Gue coba ngerjain lagi, jawabannya tetep 1/7. Akhirnya setelah menyerah mencari apa kesalahan gue, gue coba membaca pelan-pelan pilihan jawabannya; 1/14, 2/14, 3/14, 4/14, 5/14. Kampret, ternyata ada jawabannya, B. 2/14 (kalo disederhanakan jadi 1/7). Bener-bener menjebak peserta yang mentalnya gak tenang. Yaudah, setelah menghitamkan pilihan jawaban B, gue lanjut mengerjakan soal lain. Gak ada yang gue bisa. Seriously? Masa MTK IPA gue cuma bisa ngerjain 4 dari 15 soal? Akhirnya usaha gue bolak-balik soal dan ngubek-ngubek maksud soal membuahkan hasil juga, gue dapet satu soal lagi yang gue bisa. Sederhana sih, soalnya cuma berbunyi, "Banyaknya akar real dari t^9 - t adalah ..." Pilihan jawabannya pun sederhana; 2 buah, 3 buah, 4 buah, 6 buah, 9 buah. Ya masalahnya, pikiran untuk ngubek-ngubek soalnya yang gak sederhana -_- akhirnya setelah melewati hujan kesulitan, gue bisa menemukan jawabannya, 3 buah. Kesimpulannya, gue cuma bisa ngerjain 5 dari 15 soal Matematika IPA. Cukup buruk.

Setelah bener-bener puyeng mengerjakan soal Matematika IPA, gue lanjut ke bidang studi selanjutnya. Fisika. Nah soal Fisika ini menurut gue paling sederhana dibandingkan soal bidang studi lain, kebanyakan soalnya berupa hafalan rumus, sangat sedikit yang analisis, tapi cukup menjebak dan saking sederhananya, gue gak kepikiran kalo tipe-tipe soal tersebut bakal keluar di SBMPTN (karena agak cenderung menyerupai soal UN) alhasil gue lupa beberapa rumus untuk ngerjain soal-soal tersebut. Materinya bervariasi, ada Getaran dan Gelombang, Efek Fotolistrik, Dinamika Rotasi, Fluida, Dinamika Gravitasi, Gaya Gesek, Usaha dan Energi, Optika Geometri, RLC, Termodinamika, Listrik, sampai Radioaktivitas (radioaktivitasnya juga gak ribet kok, materinya tentang waktu paruh). Hasil akhirnya, gue bisa ngerjain 10 dari 15 soal. Alhamdulillah.

Abis sedikit refreshing otak di Fisika *gaya banget ya, padahal gak gampang gampang banget juga*, sampailah gue di bidang studi terakhir. Kimia. Gue mencoba melihat jam tangan gue, ternyata jam menunjukkan pukul 8:45, sedangkan bel selesai mengerjakan akan berbunyi pukul 9:15..... gue langsung sadar. Gue literally langsung ngebut ngerjainnya, untung gak terlalu susah juga. Materinya juga sebagian besar cukup mudah, ada Termokimia, Penurunan Titik Beku (Sifat Koligatif Larutan), Redoks, Bilangan Kuantum, Stoikiometri, Laju Reaksi, Sel Volta, Hidrolisis, Kesetimbangan, Kimia Organik, Kelarutan, dan Sifat Molekul (titik didih, ikatan hidrogen, bentuk molekul, dsb). Saking ngebutnya, gue akhirnya selesai jam 9:00 dengan mengerjakan 11 dari 15 soal. Itu buru-buru banget loh.

Di sisa 15 menit sebelum bel, gue masih merenungkan Matematika IPA gue yang cuma bisa ngerjain 5 soal. Ga ngerti mesti ngapain lagi. Karena terlalu lama merenung, gue sampe lupa memeriksa kembali identitas diri sampe lembar jawaban gue dikumpulin. Karena panik takut ada yang lupa, gue memberanikan diri minta lembar jawaban gue lagi ke pengawas dengan bilang "ada yang kelupaan" karena kalo alesannya "lupa periksa kembali" ya gak bakal dikasih. Setelah dapet lembar jawaban gue lagi, gue buru-buru mengubah mata gue layaknya scanner sambil memeriksa kolom nama peserta. Untung semua bulatannya sesuai. Karena pengawasnya liatin gue terus dengan mata waspada (dikira gue bakal ngubah jawaban kali), akhirnya gue menyudahi pemeriksaan singkat tersebut dan mengembalikan lembar jawaban gue. Huft, padahal gue juga belom meriksa kode peserta, kode naskah soal, dan tanggal lahir T_T belum lagi gue juga takut karena instruksi pengawas mengisi kolom pernyataan dan tanda tangan pake pulpen, takutnya tinta pulpennya berpengaruh ke scannernya. Agak lebay sih tapi takut aja gitu. Yasudah gue pasrahkan saja dan berdoa jangan sampai hal-hal kecil seperti itu menghalangi gue untuk masuk PTN..... setelah itu, gue keluar ruangan.

Singkat cerita, bel tanda masuk kembali berbunyi. Jadwal kedua, mengerjakan TKPA. Gue mempersiapkan kembali alat tulis dan kembali ke bangku gue. Gue bertekad akan lebih baik lagi saat mengerjakan TKPA ini. FYI, TKPA itu Tes Kemampuan dan Potensi Akademik. Mata pelajaran yang ada di TKPA ini antara lain Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, TPA Verbal, TPA Numerik, dan TPA Figural. Beda dengan tahun lalu dimana TKPA masih dipisahkan menjadi TPA dan TKD Umum (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris).

Setelah mengisi identitas di lembar jawaban, gue langsung mengerjakan Matematika Dasar. Sebagian besar lumayan gampang sih, kayak soal UN tapi lebih susah dikit.. yang susah juga ada hehe gue ngerjain 10 dari 15 nomor. Setelah itu, gue ngerjain Bahasa Inggris dulu berhubung kalo Bahasa Inggris wacananya lebih panjang dan lebih menguras waktu, kalo dikerjain pas akhir akhir takutnya malah gak konsen. Soal Bahasa Inggris lumayan gampang, gak sesusah soal tahun lalu dan alhamdulillah gue bisa ngerjain 13 dari 15 nomor. Agak gambling sih sebetulnya karena soal Bahasa gak eksak gitu kan jadinya jawabannya juga agak ngira ngira. Setelah ngerjain Bahasa Inggris, gue langsung ngerjain TPA.

Shiz. TPA Verbal nya ada sinonim dan antonim, padahal sinonim dan antonim terakhir keluar di SNMPTN Tulis tahun 2010 :( dan sinonim antonim nya tuh gak segampang tahun 2010 juga. Apa sinonim dari intimidasi? Pilihan jawabannya ada agitasi, tekanan, ancaman, dorongan, dan provokasi. Gue harus pilih yang mana? TPA Numerik lumayan gampang, tetapi ada satu soal yang gak ada jawabannya. Di TPA Figural ada kejutan lebih menarik lagi. Ada soal tipe diagram Venn dan ada kelanjutan gambar juga. Soal tipe kelanjutan gambar terakhir keluar di SNMPTN Tulis tahun 2009, sedangkan soal tipe diagram Venn itu soal tipe baru, baru dikeluarkan di SBMPTN 2014 ini. Buat kalian yang gak tau soal tipe diagram Venn itu kayak gimana, beli aja di buku latihan SBMPTN untuk tahun 2015 paling-paling udah ada.. hehehe. Hasil akhirnya untuk TPA, gue bisa ngerjain 38 dari 45 soal. Kebanyakan gambling, apalagi untuk soal sinonim antonim dan diagram Venn, karena menurut anggapan gue, TPA itu terlalu sayang untuk banyak dikosongkan.

Setelah mengerjakan soal TPA, gue langsung mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Tipikal soal SBMPTN Bahasa Indonesia, kebanyakan tentang tata kata. Disuruh cari kalimat yang tidak baku, kalimat yang tidak efektif, dsb. Nyari ide pokok juga ada. Yaa lumayan lancar lah, tapi apa sih yang bisa diharapkan dari soal Bahasa Indonesia.... pikiran bilang "Bisa," taunya banyak salah juga.

Setelah ngerjain Bahasa Indonesia, gue coba ngerjain lagi nomor-nomor yang masih kosong jawabannya. TPA nya susah ya.. Saking susahnya gue sempet bengong sekitar 3-4 menit. Haduh. Tapi gue harus ngerjain. Masa depan gue beberapa persen tergantung apa yang gue lakuin hari ini. Akhirnya bel tanda selesai mengerjakan berbunyi juga. Gue berhasil ngerjain 73 dari 90 soal TKPA, bukan karena bisa, melainkan karena 'sayang aja kalo dikosongin'.

Hari-hari pasca-SBMPTN gue kebanyakan bengong. Bengong mikirin pengumuman, bengong mikirin hasilnya nanti. Kunci jawaban SBMPTN pun telah terpampang di bimbel gue bagi yang mau meriksa jawabannya. Galau sih mau meriksa atau engga.. akhirnya gue konsul ke guru-guru gue periksa atau engga. Kata mereka, "udah nanti aja meriksanya kalo semua ujian udah selesai, kan masih ada ujian mandiri." Ok akhirnya gue menuruti nasihat mereka, berhubung SIMAK UI juga tinggal sebentar lagi, mendingan gue fokus dulu aja. Hehehe.

/timejump/

SIMAK UI selesai. Susah. Lebih susah dari SBMPTN. Tapi kok gue malah lebih optimis di SIMAK UI daripada SBMPTN ya? Hehehe. Anyways, pengumuman SBMPTN dan SIMAK UI itu tanggal 16 Juli 2014 dan 23 Juli 2014, which means itu pas bulan puasa. Which means gue bakal menjalani puasa sambil deg-degan nunggu hasil SBMPTN dan SIMAK UI :")

Abis SIMAK UI selesai, tiap hari tuh kerjaan gue mikirin pengumuman aja. Kira kira lulus gak ya? Kira-kira saingan gue nilainya lebih bagus dari gue gak ya? Banyak asumsi deh pokoknya. Karena gue udah pusing berasumsi, akhirnya gue memberanikan diri buat meriksa pake kunci jawaban yang dibuat bimbel gue....

Gue meriksa...

49%, dari passing grade FKUI yang 60%an. Udah pasrah banget. Karena dapet segitu, akhirnya gue move on dari FKUI ke pilihan ke-2 dan ke-3 gue, FK UGM dan FK Unbraw. Kayaknya udah gak mungkin banget dapet FKUI dengan nilai segitu. Sesusah apapun soal SBMPTN nya, kayaknya FKUI gak mungkin nerima nilai gue. Akhirnya gue pasrah, tetapi gue terus berdoa karena gue masih punya harapan di pilihan ke-2 dan pilihan ke-3. Doa gue selalu "Ya Allah, hamba rela apabila hamba diterima di pilihan pertama, kedua, ataupun ketiga, yang penting hamba lolos SBMPTN 2014 ya Allah. Hamba ingin ada ucapan selamat untuk nama hamba di web Pengumuman SBMPTN 2014." Ya, gue berharap banget lolos SBMPTN karena gue gak mau ikut ujian-ujian lagi. Selain capek mental, capek biaya juga. Untuk ujian mandiri, akhirnya gue cuma daftar UM Undip karena tutupnya sebelum pengumuman SBMPTN, dan gue juga pesen tiket Jakarta-Malang-Surabaya-Jakarta buat jaga-jaga kalo gak lolos SBMPTN 2014 karena gue mau ikut UM Unbraw dan UM Unair, karena ujian-ujian tersebut dilaksanakan pas mau deket lebaran. Takutnya kalo pesennya deket deket, malah kehabisan tiket.

Gue terus-terusan berdoa, gue terus-terusan berasumsi kalo dengan nilai 49%, gue bisa lolos SBMPTN. Gue gak belajar lagi buat ujian mandiri karena gue udah males belajar-belajar lagi.

Saking bosennya gue di rumah, kerjaan gue tidur, bangun, berdoa, repeat. Gabisa keluar buat makan-makan juga karena lagi bulan puasa. Sampe sampe gak kerasa udah H-3 pengumuman SBMPTN. Deg-degan sih, tapi anehnya gak sedeg-degan pas SNMPTN. Mungkin masa deg-degannya udah lewat kali ya, hehehe. H-3, H-2, H-1, sampe akhirnya hari-H. Pagi pagi abis sahur, gue gak bisa tidur lagi karena mikirin pengumuman SBMPTN di sore harinya. Pas pamit ke ortu pas mereka mau pergi kerja, nyokap gue bilang "Iya mama berdoa terus kok, tapi jangan terlalu deg-degan dan terlalu berharap kayak pas SNMPTN ya. Mama berdoa semoga Nanda bisa dapet hasil yang terbaik hari ini, semoga hasil yang keluar hari ini bisa membayar semua kerja keras Nanda selama ini. Mama terus berdoa kok." :") soothing banget ya kata-katanya.

Akhirnya sampailah 2 jam sebelum pengumuman. Gue sholat, ngaji, sama berdoa aja. Sekalian diselingin chatting sama temen-temen buat berbagi deg-degan. Grup kelas gue pun geger sekitar jam setengah 5 sore, katanya web pengumuman SBMPTN udah bisa dibuka! Ada yang bilang "gue gak lulus:")," "gue gak berani buka," bahkan temen gue ada yg lolos FKUI! Namanya Agassi. Tapi gue memilih buat ngeliat pas waktunya aja jam 17:00, semua ada waktunya kok :) kira-kira beginilah percakapannya:

"Gas lo keterima gak?"
"IYA CUUUPPP"
"Keterima dimana gas?"
"FKUI! Coba lo cek deh!!"
"Alhamdulillah selamat ya Gas"
"Duhh semoga kita satu universitas yaAllah"
"Aaamiin ya Allah"

Setengah jam kemudian. Jam 17:00 tepat, akhirnya gue memberanikan diri buat buka. Tadinya gue mau liat pengumumannya abis buka puasa, tapi gara-gara Agassi, gue jadi berniat untuk membukanya sekarang. FYI, gue waktu itu ngecek nilainya juga bareng Agassi. Tapi, kali ini gue ngecek pake kunci jawaban yang ada di internet. Lebih banyak salahnya daripada pas gue ngecek dari kunci jawaban bimbel gue. Alhasil, gue dapet 45% dan Agassi dapet 44%. Nah, karena Agassi udah ngecek duluan dan keterima FKUI, alhasil ada secercah harapan buat gue. Ya kalo gak keterima di FKUI, at least gue punya harapan keterima di FK UGM dan FK Unbraw...

Gue klik pengumuman.sbmptn.or.id, udah ada surat penetapan hasil SBMPTN dan udah ada tampilan kayak gini
.......
Gue ketik nomor peserta SBMPTN 2014 dan tanggal lahir
.......
Sumpah ya gaada yg bisa ngalahin deg-degannya pas lagi buka web pengumuman SBMPTN
.......
Gue klik "Lihat hasil"
........
........
........

STUCK. Lama banget loadingnya. Udah kebuka hasilnya, tapi yg keliatan cuma kotak kotak doang buat tempat QR code nya.. Akhirnya sekitar 10 detik gue tunggu... dan....



"ALHAMDULILLAH YA ALLAH. ALHAMDULILLAH MAKASIH YA ALLAH ENGKAU MAHA MENDENGAR DOA HAMBANYA."

Sontak gue langsung teriak teriak dan sujud syukur. Pendidikan Dokter, Universitas Indonesia. FKUI. Sebetulnya... gue masih gak percaya. Gue masih berasumsi bahwa website pengumuman SBMPTN ini error sehingga semua yang daftar FKUI keterima semua, karena gue gak percaya kalo gue keterima FKUI, dengan nilai gue yang cuma 45%.

Masih diselimuti rasa tidak percaya, gue tetap menelepon nyokap & bokap gue. Rencananya, gue mau ngasih surprise tapi failed. Beginilah kira-kira percakapan antara gue dan nyokap gue:
"Ma, Nanda masih takut buat liat pengumumannya. Mama aja deh yg buka. /nada dibuat khawatir/"
"Gapapa kak, gausah takut. Masalahnya Mama lagi jalan pulang nih, mama juga ga ngerti. Udah kakak aja yang buka, mama pasti terima hasilnya kok."
"Hmmm.... Sebetulnya...... Nanda lolos, Ma."
"HAAAAA??!!!! KETERIMA DIMANAAAA???!!!" (langsung kenceng banget ngomongnya:"))
"Nanda lolos di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia."
"ALHAMDULILLAH YA ALLAAAAHHHH" (terdengar nyokap gue langsung sujud syukur, gue bingung padahal katanya tadi lagi jalan pulang-_-)
"SELAMAT YA KAAAK, YAAMPUN MAMA BANGGA BANGET. Telepon Papa sama Nenek ya kaak, tadi Nenek telepon mulu pingin tau hasilnya."

Selanjutnya gue telepon bokap gue, kira kira sama kayak percakapan antara gue dan nyokap gue bedanya ini gaada kejutan lagi. Selanjutnya, gue telepon nenek gue dan nenek gue seneng banget sampe nangis :")

Abis selesai telepon keluarga, gue masih penasaran apakah itu hasilnya benar. Akhirnya gue buka semua web-web mirror Pengumuman SBMPTN, sbmptn.ui.ac.id, sbmptn.itb.ac.id, sbmptn.undip.ac.id, sbmptn.its.ac.id, penerimaan.ui.ac.id, dan lain-lain dan alhamdulillah semua hasilnya SAMA :")

sbmptn.ui.ac.id

sbmptn.itb.ac.id

sbmptn.undip.ac.id

penerimaan.ui.ac.id

Akhirnya gue percaya bahwa itu beneran:") gue juga download file semua nama yang diterima SBMPTN 2014 dan ada nama gue dari 73 peserta lainnya yang juga diterima di FKUI :") ternyata webnya gak error.


Nama gue juga ada di koran Kompas edisi keesokan harinya:") 

Pengumuman SIMAK UI ternyata dimajuin, dari tanggal 23 Juli 2014 jadi tanggal 21 Juli 2014, tapi gue gak lolos hehehehe. Ternyata, yang udah keterima di UI lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN, gak bisa keterima lagi di SIMAK. Temen-temen gue yang keterima di UI lewat SBMPTN juga gaada lagi tuh yang keterima lagi di SIMAK. Mungkin emang sistemnya begitu kali yaa biar kuotanya gak ada yg dobel :)

Alhamdulillah, semua kerja keras terbayarkan. Selama 3 tahun di SMA belajar dengan tujuan akhir lulus SMA dan masuk PTN dan prodi yang diinginkan, akhirnya tercapai juga. Tujuan-tujuan itu tercapai bukan karena gue, melainkan karena Allah SWT. Gue masih ngerasa itu keajaiban. Itu mukjizat. Dengan nilai 45% out of 63%, alhamdulillah ternyata bisa masuk FKUI.

Saran untuk adik-adik yang bakal ikut UN, SNMPTN, dan SBMPTN juga, berusaha dan berdoalah. Usaha kalian tidak akan menghianati kalian kok. Berdoalah, kalau bisa, semoga diterima lewat jalur SNMPTN. Kalo misalnya gak lolos SNMPTN, bangkit! Tuhan masih kasih kesempatan kalian buat ikut SBMPTN dan ujian-ujian mandiri lainnya, akankah kalian mendustakan nikmat-nikmat Tuhan tersebut?

Terakhir, sedikit penyemangat. Jadi sehari setelah pengumuman SNMPTN, tanggal 28 Mei 2014, gue menemukan sesuatu di ask.fm. Suatu answer yang menyakitkan hati gue. Here's the screenshot.


Ya. Gue menemukan answer itu di timeline ask.fm gue. Jujur, sakit banget. Berhubung gue daftar FK UGM juga, tapi gue gak diterima. Namun, in the end, sakit hati gue terbayar. Gue akhirnya bisa membayar sakit hati gue karena gak diterima FK UGM, dengan diterimanya gue di FK UI, fakultas dan universitas yang telah gue idam-idamkan sejak kecil.
Saran lagi, kalau daftar SNMPTN, PILIHLAH JURUSAN YANG KALIAN MAU DI UNIVERSITAS YANG KALIAN MAU. Jangan sampai kalo diterima nanti, kalian malah nyesel. Please, masih banyak kesempatan lain kalo gak lulus SNMPTN. :)

Friday, July 25, 2014

Cerita Perjuangan Kelas XII: SNMPTN 2014

Selamat pagi/siang/sore/malam semuanya! Gue kembali lagi setelah menceritakan pengalaman gue melewati salah satu event yang krusial di kelas XII, yaitu Ujian Nasional. Kalian bisa baca pengalaman gue melewati UN 2014 di Cerita Perjuangan Kelas XII: Ujian Nasional SMA 2014 :)

Nah, setelah menceritakan pengalaman gue melewati Ujian Nasional dan lulus SMA dengan nilai memuaskan, gue mau berbagi pengalaman gue lagi nih melewati dua event yang sangat-sangat krusial di SMA karena kalau kalian mau masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri), kalian harus melewati event ini. SNMPTN dan SBMPTN. Perjuangan melewati SNMPTN dan SBMPTN gak kalah berat dari perjuangan melewati UN, bahkan lebih berat. Kenapa gue bisa bilang lebih berat? Karena SNMPTN dan SBMPTN itu prinsipnya untuk menyeleksi, sedangkan UN prinsipnya untuk evaluasi. Kita harus bersaing dengan semua anak kelas XII di seluruh Indonesia, bahkan banyak juga alumni SMA tahun-tahun sebelumnya yang ikut SBMPTN, untuk meraih kursi PTN yang sangat terbatas jumlahnya.

Apa sih bedanya SNMPTN dan SBMPTN?

Disini gue mau mencoba menjelaskan secara gampang aja ya. SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah seleksi yang penilaiannya berdasarkan nilai rapor dan prestasi-prestasi lainnya. Jadi, SNMPTN ini gak ada ujian tulisnya, penilaiannya berdasarkan nilai rapor semester I s.d. V. Sebelum tahun 2013, SNMPTN ini namanya SNMPTN Undangan. Sedangkan, SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah seleksi yang penilaiannya berdasarkan nilai ujian tulis. Jadi, SBMPTN ini prinsipnya adalah ujian tulis. Sebelum tahun 2013, SBMPTN ini dikenal dengan nama SNMPTN Tulis. Semoga jelas ya penjelasan singkatnya!

Ok, let me begin to tell you my long journey!

Dari kecil, gue dari dulu pingin banget jadi dokter. Saat balita, kalo ditanya "Kamu mau jadi apa?," pasti gue bakal jawab "Mau jadi dokter." Namun, gue juga pernah berubah sih cita-citanya. Dulu pas SD gue sempet pingin jadi insinyur. Gak tau kenapa dulu gue pingin jadi insinyur, akhirnya pas SMP saat mulai belajar Fisika dan Biologi (Kimia pas SMP dikit banget, bisa dibilang gak belajar Kimia malah), gue meninggalkan cita-cita menjadi insinyur itu. Gue gak bisa Fisika. Gue lebih suka Biologi. Semenjak SMP, cita-cita gue adalah menjadi dokter.

-- timejump ke kelas XII semester 2 --

Tibalah saatnya mendaftar SNMPTN 2014. Di saat temen-temen gue masih bingung dengan jurusan yang mau mereka pilih, gue udah sangat fix dengan jurusan yang gue pilih.

Ya, Pendidikan Dokter.

Masalahnya, Pendidikan Dokter di PTN mana? Jujur, semenjak kelas X gue sangat mengidam-idamkan untuk menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Lebih tepatnya, menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. FKUI. Gue pun sering ngomong ke temen-temen gue, "Nanti kita ketemu lagi ya di UI," "Doain gue ya masuk FKUI," "Lo anak FEUI, gue anak FKUI! Aamiin." Namun, apakah gue masih yakin untuk memilih FKUI sampai tiba waktunya untuk mendaftar SNMPTN 2014? Sayang, jawabannya tidak.

Ternyata, banyak juga temen-temen gue yang nilainya jauh lebih tinggi dari gue yang juga memilih Pendidikan Dokter Universitas Indonesia. Lagipula, dari jalur undangan (SNMPTN), FKUI hanya mengambil satu siswa dari sekolah gue, SMAN 78 Jakarta, setiap tahunnya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya gue melepas niat gue untuk memilih Pendidikan Dokter Universitas Indonesia di jalur SNMPTN ini.

Setelah memutuskan, gue mencari referensi PTN selain Universitas Indonesia yang Fakultas Kedokterannya mempunyai akreditasi yang sangat baik. Akhirnya, gue memutuskan untuk memilih program studi Pendidikan Dokter di PTN yang berada di bumi Yogyakarta sana. Ya, gue memilih Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan gue di SNMPTN 2014 ini. Modal nekat, karena FK UGM tidak menerima siswa seorang pun lewat jalur undangan dari sekolah gue. Oh iya, sebetulnya gue kurang tepat menggunakan istilah "FK UGM" karena program studi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada bukan hanya Pendidikan Dokter, melainkan juga terdapat Gizi Kesehatan dan Ilmu Keperawatan, tapi buat mempersingkat, gue pake istilah FK UGM aja ya untuk merujuk ke prodi Pendidikan Dokter nya. Terakhir, FK UGM menerima siswa dari sekolah gue dari jalur SNMPTN Undangan pada tahun 2011. Setelah itu, gak pernah ada lagi yang diterima di FK UGM lewat jalur undangan.

Ah, bisa aja tahun ini ada yang dapet, pikir gue. Selain itu, alumni 78 2013 juga ada yang diterima di FK UGM, tetapi lewat jalur SBMPTN. Siapa tau FK UGM menerima siswa lagi dari sekolah gue lewat jalur SNMPTN karena tahun lalu ada yang masuk FK UGM? Hehehe. Akhirnya, gue fix memilih Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada di jalur SNMPTN 2014.


Range waktu antara pendaftaran SNMPTN dan pengumuman SNMPTN panjang banget. Gue daftar SNMPTN pertengahan bulan Maret, sedangkan pengumumannya akhir Mei. Digantungin selama 2 bulan lebih oleh Panitia SNMPTN.

Nah, di range dua bulan itu, ada UN di bulan April. Jadi, setelah gue selesai daftar SNMPTN, gue langsung fokus UN. Nah di tahun ini, kabarnya nilai UN jadi pertimbangan buat penilaian SNMPTN. Akhirnya gue berusaha keras buat dapet nilai UN yang memuaskan. UN tahun ini soalnya bener-bener parah susahnya. Susah parah. Karena soalnya sulit, akhirnya gue percaya kalo nilai UN jadi salah satu penilaian untuk SNMPTN 2014.

Selesai UN, gue langsung lanjut intensif SBMPTN 2014. Intensif SBMPTN ini kerasa banget lamanya, kenapa? Mungkin karena masih menunggu SNMPTN. Karena masih digantungin, akhirnya gue males-malesan belajar intensifnya. Masuk terus sih intensifnya, tapi gue cuma belajar pas intensif di bimbel doang. Gue gak belajar lagi di rumah. Gue cuma murni belajar di bimbel. Kerasa banget males-malesannya, di saat temen-temen gue semangat ikut tambahan pelajaran, gue sering gak ikut. Dengan peringkat rapor gue yang menurut gue cukup progresif dan bagus (semester I: 142, semester II: 32, semester III: 32, semester IV: 13, semester V: 15), gue pede bisa lolos SNMPTN. Gue pede bakal dapat kata "Selamat" di web SNMPTN tanggal 27 Mei 2014. Intinya, gue pede.

Sekitar sebulan gue bermalas-malasan, semakin dekat pengumuman SNMPTN, gue semakin pede. Puncak keoptimisan gue adalah ketika pengumuman UN, gue meraih nilai ujian nasional yang sangat memuaskan, 56.40. Gue cek di link daftar 25 peraih nilai UN tertinggi, peringkat ke-25 mendapat nilai 56.60. Agak nyesek sih, coba aja gue dibenerin 1 soal di Biologi/Kimia/Matematika/Fisika, gue bisa dapet nilai 56.65. Gue bisa masuk di daftar itu. Namun dengan nilai yang hampir menyentuh daftar itu, gue optimis banget. Bahkan, temen gue bilang "Kalo nilai UN beneran jadi penilaian SNMPTN, gue yakin pasti lo dapet lah."

........

Beberapa jam sebelum pengumuman SNMPTN tanggal 27 Mei 2014, gue sangat-sangat deg-degan, tapi gue tetep optimis. Pengumuman diundur 12 jam, dari yang seharusnya sudah bisa dilihat jam 12 malam, diundur jadi jam 12 siang. Ahelah, bikin makin deg-degan aja.

Sekitar jam 11:40 siang, ternyata hasilnya udah bisa diliat di web-web mirror SNMPTN, salah satunya web mirror dari ITS. Sumpah, hp gue rame banget notifnya. Ditambah lagi hp nyokap juga rame banget dari grup orangtua siswa. Ternyata banyak juga yang lolos :") gue juga ikut seneng.. Tapi gue tetep gak mau buka hasilnya dari mirrornya. Gue mau buka langsung dari web SNMPTN dan webnya baru dibuka jam 12 tepat. Jam 12 tepat, ternyata udah bisa diliat pengumuman dari web SNMPTN nya. Sumpah gue gak bisa mendeskripsikan deg-degannya gue waktu itu. Gue mencoba merilekskan diri gue dulu dengan menonton TV.. karena kalo seandainya gue melihat hasilnya dengan keadaan gue yang sedeg-degan itu dan kalo gue gak lulus, gue bisa pingsan kali. *lebay*

Sekitar jam 12:20 akhirnya gue memberanikan diri setelah terus-terusan dipaksa nyokap buat ngeliat hasilnya. Gue ambil laptop yang sudah menyala dari kamar gue dan bawa laptopnya ke kamar ibu gue, lalu langsung membuka browser dan mengetik link web SNMPTN, pencet tombol enter, ternyata tampilannya sudah begini.

Langsung gue ketik nomor pendaftaran dan tanggal lahir gue... 
....
"Bismillahirrahmanirrahim," doa gue dan nyokap gue sebelum mengklik tautan dibawah tanggal lahir.
....
Gue klik LIHAT HASIL SELEKSI
...

Cepet juga websitenya, gak sampe 2 detik langsung keluar hasilnya. Gue scroll sedikit demi sedikit karena kata-kata lolos atau tidaknya terdapat di bawah halamannya jadi harus scroll...


Selamat ya Cup, lo telah di-php-in panitia SNMPTN. Sekali lagi, selamat!

"Gapapa kak, gapapa pasti ada maksud dibalik semua ini," kata nyokap memecahkan keheningan yang ada, tepat setelah gue melihat hasilnya.

Sedih. Kenapa gue harus ngeliat ini bareng orangtua? Seharusnya gue tadi liat diam-diam, tidak dengan ibu gue. Kesel, ternyata FK UGM gak menerima satu siswa pun dari sekolah gue lewat jalur SNMPTN, padahal yang memilih FK UGM di pilihan pertama ada sekitar 7 orang. Kenapa? Apakah sekolah gue kurang bagus? Mungkin, gue gak akan sesedih ini kalo aja ada 1 orang yang diterima di FK UGM walaupun orang itu bukanlah gue. At the very least, ada yang diterima. Kalo aja gue tau FK UGM gak akan mengambil satu siswa pun dari sekolah gue, gue gak akan ngambil FK UGM. Gue bakal mengambil prodi Pendidikan Dokter di PTN lain yang sudah pasti akan mengambil satu orang dari sekolah gue di jalur SNMPTN ini (kecuali UI, karena saingannya berat). Mungkin gue akan mengambil FK UNS, FK UB, FK Undip, atau yang lain kalo tau FK UGM gak mengambil satu siswa pun dari sekolah gue. Namun apa daya, hal itu emang gak bisa diketahui. Nasi sudah menjadi bubur, seharusnya gue lebih bijak dalam memilih prodi dan PTN di SNMPTN.

Gue mencoba buat gak berlama-lama bersedih hati. SBMPTN menunggu 3 minggu lagi, dan gue harus segera melanjutkan perjuangan gue. Gue gak mau menyia-nyiakan nikmat Tuhan yang memberi waktu 3 minggu untuk lebih serius berjuang. Gue mencoba bangkit setelah sekitar beberapa menit meratapi nasib ditolak di jalur SNMPTN. Gue berjanji akan lebih serius berjuang mendapatkan PTN.

..........

to be continued, Cerita Perjuangan Kelas XII: SBMPTN 2014 dan SIMAK UI 2014

Monday, July 21, 2014

Cerita Perjuangan Kelas XII: Ujian Nasional SMA 2014

Halo semuanya! Alhamdulillah gue kembali di blog ini dan sudah menyandang status mahasiswa baru :") kali ini gue mau cerita tentang perjuangan gue di kelas XII yang bener bener nguras tenaga dan pikiran. Bener bener nguras pikiran dan tenaga. Parah. Bagaimana perjuangan gue selama satu tahun terakhir ini?

Pas hari pertama kelas XII gue seneng banget. Seneng banget akhirnya bisa jadi kelas XII. Enak banget bisa jadi agit (bahasa anak Jakarta Selatan, artinya anak kelas tiga). Seneng banget bisa jadi senior. Seneng banget adik kelas jalannya pada nunduk kalo lagi jalan di koridor /mental senioritas/. HAHAHA. Percaya deh, senioritas SMA itu mengasyikkan banget. Ya kalo jadi junior atau kelas X sih emang gak enak. Enaknya kalo pas jadi seniornya aja :))

Berhubung gue sekolah di SMA Negeri 78 Jakarta, sekolah menengah atas negeri di bilangan Kemanggisan yang bisa dibilang cukup elite di Jakarta Barat dan menerapkan sistem SKS (Sistem Kredit Semester) yang jadi-jadian, jadi setiap semester terasa sama aja. Tugasnya sama-sama segunung setiap hari, tiap semester pasti ada guru killer yang bikin kita nangis-nangis sepanjang semester, tiap semester tujuan akhirnya selalu sama, yaitu pingin naikin IP (Indeks Prestasi) biar lebih bagus dari semester lalu. Kalo anak 78 ditanya "Harapan kamu di semester ini apa?," jawabannya udah bisa ditebak; "Semoga IP gue naik." Oh iya, IP itu sama aja kayak rata-rata nilai rapot, tapi berhubung 78 memakai sistem SKS, jadi ya bahasanya ikut-ikutan kayak di dunia perkuliahan gitu deh. Hehehe.

Di kelas XII semester 1 tahun 2013, gue sih lancar-lancar aja ngejalaninnya. Masih bisa seimbangin antara 'mencari nilai' buat naikin IP sama mempersiapkan untuk UN tahun 2014 karena persiapan UN di semester 1 belum terlalu intensif. Singkat cerita, gue bisa melewati semester 1 dengan IP yang memuaskan. Cukup memuaskan untuk mengakhiri tahun 2013.

Nah di tahun 2014 inilah the real struggle began. Mulai bulan Januari, pendalaman materi UN udah dimasukin ke jam KBM. Ketemu guru Biologi, Kimia, Fisika 4 kali seminggu. Duh mabok lagi deh. Tapi di semester 6 ini enak sih bisa bolos kapan aja karena absennya juga gak bakal dimasukin ke raport. Hehehe.

Seiring dengan berlangsungnya pendalaman materi UN, beredarlah isu-isu miring tentang UN juga, kabarnya UN tahun ini bakal disusahin, kabarnya UN tahun ini bakal dipercepat, kabarnya UN yang biasanya berlangsung 4 hari tahun ini bakal diubah jadi cuma 3 hari. Ya. Ternyata isu ketiga berubah menjadi kenyataan setelah dikonfirmasi oleh Kemendikbud. Hari pertama: Bahasa Indonesia dan Biologi; hari kedua: Matematika dan Kimia; hari ketiga: Fisika dan Bahasa Inggris.

DA HELL? HARI KEDUA GAK SALAH BANGET TUH? DUET MATEMATIKA DAN KIMIA?

Yaudah lah, kita udah melupakan soal itu. Lagian kita pikir kan kalo UN makin cepet selesai, makin plong juga rasanya. Makin cepat pula menuju liburan dari selesainya UN sampai pengumuman kelulusan yang panjaaaangggg banget.

Namun, isu-isu miring itu belom sampe disitu kok. Setelah itu, ada kabar lagi bahwa nilai UN akan dijadikan acuan untuk SNMPTN oleh karena itu soal UN akan dipersulit. Kalau gue baca berita-berita sih emang ada gitu deh. Ada gitu daftarnya PTN ini ngasih bobot nilai UN berapa persen untuk penilaian SNMPTN. Oke, gue harus berhasil nih UNnya, pikir gue.

Persiapan UN SMA itu perjuangan banget. Gak semudah UASBN SD dan UN SMP yang tipe soalnya begitu begitu aja. Mulai tahun 2013, ada 20an tipe soal dan semuanya dikasih barcode buat meminimalisir kecurangan. 20 tipe soal, yang artinya gak semua tipe soal sama rata susahnya. Pasti ada yang nyeleweng dikit lah dari tingkat kesulitan UN yang seharusnya. Bisa juga sih nyeleweng banyak. Maka dari itu sekolah selalu cekokin kita dengan ngasih paket-paket prediksi soal UN sepanjang semester itu. Mulai dari yang tingkat kesulitannya rendah, sedang, sampai tinggi. Kebanyakan sih yang tinggi..

Hari demi hari berlalu, try out demi try out berlalu.... Hingga tibalah hari-H. Hari-H UN SMA 2014. Hari pertama UN, Bahasa Indonesia dan Biologi. Sebelum kelas gue masuk ruangan, semuanya pada ngumpul dulu di depan ruang ujian. Berdoa, dan pastinya terdengar kata-kata yang sangat umum sebelum ujian. "DOAIN GUE YAAAA!," sorak teman-teman gue. Gue pribadi pun juga minta doa ke temen temen gue, "Semuanya doain gue dong biar gue bisa jadi peraih nilai UN SMA tertinggi se-Indonesia! Doain gue dong biar 78 naik pamornya karena gue!"

HAHAHAHA. Itu sebetulnya emang target gue loh. Gue emang dari SMP pingin banget jadi peraih nilai UN tertinggi. Setiap gue ngeliat berita tentang anak dengan nilai UN tertinggi, gue selalu mikir kapan ya gue bisa? Apalagi tahun lalu siswa peraih nilai UN SMA tertinggi se-Indonesia 2013 dari Bali dapet golden ticket masuk Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tanpa tes-tes lagi. Duh pingin! Nah pas gue bilang ke temen-temen gue bahwa target gue itu, temen-temen gue langsung bilang "HAH DEMIAPA? Yaudah gue doain ya semoga lo bisa dapet nilai UN tertinggi se-Indonesia terus semoga 78 bisa jadi sekolah dengan rata-rata nilai UN terbaik se-Indonesia!" "AAAMIIIIN."

Setelah bel berbunyi, masuk kelaslah kita, memberi salam ke bapak dan ibu pengawas ujian, menaruh tas di depan kelas dan mengeluarkan amunisi ujian. Papan jalan, kartu peserta ujian, pensil 2B, bolpoin hitam, dan penghapus. Setelah itu, gue langsung duduk di tempat gue. Berhubung ruang ujian gue bertempat di ruang kelas Internasional yang AC-nya parah banget dinginnya, ada dua lagi AC-nya. Bercampurlah rasa deg-degan gue dengan rasa kedinginan. Gila, dingin banget! Bisa pake sweater aja gak sih kalo AC-nya sedingin ini? Gue curhat beberapa detik ke temen sebelah gue. "Yem, Zah, dingin banget deh" "Tau dingin banget sih bisa gak sih AC nya matiin satu?" Emang beneran dingin sih, pengawasnya aja nanya "Ini dingin banget. AC nya bisa dimatiin satu gak yah?"  tetapi apa daya, urusan AC bukan urusan siswa.

Singkat cerita, pengawas mulai membagikan paket soal dan lembar jawaban. Mereka nyuruh kita buat periksa kelengkapan soal lalu baru memisahkan (merobek) lembar jawaban dari soalnya. Pas ngerobek lembar jawaban dari soal, duh deg degan banget! Berasa antara hidup dan mati kalo sampe ngerobek bukan di tempatnya. Lebay sih, tapi emang beneran deg-degan karena sekali salah merobek, belum tentu pengawas masih punya sisa soal dan lembar jawaban. Dengan kata lain, harus minta lagi ke bawah dan menyita waktu banyak. Untungnya, gue berhasil memisahkan lembar jawaban dari soal dengan baik. Alhamdulillah!

Bel tanda mulai mengerjakan soal pun berbunyi. Karena mata ujian yang paling gue takuti adalah Bahasa Indonesia, gue mengerjakan soal tersebut dengan sangat gugup dan hati-hati. Soal nomor 1 disuruh nyari ide pokok, tapi saking gugupnya akhirnya gue pindah ke nomor 5. Kalo gak salah, nomor 1-4 itu tipe tipenya sama aja, disuruh nyari informasi tersirat dari teks. Nah kalo nomor 5, pertanyaannya "Mana pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam teks diatas?" nah kalo diliat sih ada jawabannya. Akhirnya bisa ngisi 1 nomor juga :") Setelah sekitar 10 menit mengerjakan soal, gue balik lagi ke nomor 1-4 karena gue pikir otak gue udah cukup panas lah, udah gak terlalu nervous juga. Akhirnya gue bisa jawab. Soal yang tersisa pun gue jawab dengan baik. Alhamdulillah. Sama sih tipe-tipenya kayak soal TO. Lumayan susah, tapi lebih bisa di-handle dari TO. Syukurlah, gue bisa ngerjain sampe waktu habis.

Pelajaran kedua di hari itu, Biologi pun kurang lebih sama aja kayak Bahasa Indonesia. Tapi ada pengalaman unik, saat gue buka soalnya, lembar jawabannya pinggirnya bolong bolong gitu deh. Bolong-bolongnya di kotak-kotak hitam yang berada di pinggir lembar jawaban. Setau gue, kotak-kotak hitam itu menjadi acuan scanner untuk memeriksa jawaban. Nah kalo bolong-bolong, gimana scanner memeriksa jawaban gue nantinya? Akhirnya gue kembaliin tuh soalnya ke pengawas dan pengawas ngasih soal baru ke gue. Gue merasa bersalah juga sih karena gue mengambil soal baru saat pengawas belum selesai membagikan soal jadinya ada yang belum dapet soal gitu. Pengawas pun menghubungi panitia di bawah untuk mengantarkan soal ke ruangan gue. Pas panitianya nyampe ke ruangan gue, dia ngotot gitu deh. "Ya ampun bu, ini mah gapapa! Masih bisa diperiksa!" Tapi pengawas ruangan gue ngotot "Lah bapak tau darimana bisa bilang gapapa? Bapak udah coba periksa? Kan kita gak tau scanner disana bakal kayak gimana! Pokoknya saya mau semua peserta UN di ruangan yang saya awasi ini punya lembar jawaban yang sama. Saya gak mau disalahkan kalau ada apa-apa!" Duh ini ibu pengawas galak juga ya. Setelah perdebatan itu akhirnya panitia memberi soal baru (mungkin karena sekut kali ya!) dan ibu pengawas langsung ngasih soal itu ke temen gue yang belum dapet soal.

Hari pertama berakhir dan berlangsunglah hari kedua. Hari mengejutkan.

Matematika soalnya TERLALU PARAH SULITNYA. TERLALU PARAH. Oke gue tegaskan lagi, terlalu parah. Terlalu sulit untuk tingkat Ujian Nasional dan terlalu sulit untuk dikerjakan dalam waktu 120 menit sedangkan terdapat 40 soal. Selain itu, soal yang sulit bukanlah soal Dimensi Tiga atau Trigonometri yang kita duga memang bakal sulit, melainkan soal Vektor, Transformasi Geometri, Pertidaksamaan Linier, dan Aplikasi Integral (luas daerah dan volume benda putar) yang gak kita duga bakal sesulit itu. Pokoknya sulit banget, menurut gue untuk ukuran soal SBMPTN aja itu udah susah, apalagi untuk tingkatan soal UN? 5 menit sebelum bel tanda selesai mengerjakan berbunyi, masih terdapat sekitar 5 soal yang belum gue kerjakan. Duh gimana mau dapet nilai UN tertinggi se-Indonesia? Akhirnya di sisa waktu 5 menit itu gue bisa mengerjakan 2 soal dan untuk 3 soal yang bener-bener gak bisa gue kerjakan, akhirnya gue ngasal. Gue nebak jawaban yang kira kira bener.

Bel tanda selesai mengerjakan pun berbunyi. Pengawasnya sigap banget, abis bel berbunyi langsung ngambil soal beserta jawabannya tanpa memberi waktu tambahan. Ya iyalah, wong mereka bukan guru sekolah sendiri pasti mereka gak peduli.. Saran gue untuk anak kelas XII yang mau UN, periksalah dengan baik identitas diri di lembar jawaban SEBELUM bel tanda selesai mengerjakan soal berbunyi. Jarang sekali pengawas mau memberi waktu tambahan bagi kalian untuk memeriksa kembali printilan printilan tersebut karena mereka sendiri biasanya sudah berteriak "30 MENIT LAGI!" "15 MENIT LAGI!" "10 MENIT LAGI! "5 MENIT LAGI!" jadi no excuse deh bagi kalian buat bilang "Jam saya rusak, Bu" atau "Gak ada jam di depan kelas, Pak, jadi saya gak bisa mengukur waktu" apalagi kalo kalian bilang "Soalnya terlalu susah, Bu" karena mereka sangat tidak peduli. Time-management is #1 on national exam.

Udah gak ada harapan lagi deh pas Matematika. Bener-bener mateMATIka. Pas pengawas ngambil lembar jawaban dan soal, semuanya diam. Literally diam. Hening banget suasana abis Matematika. Akhirnya gue berinisiatif untuk memecahkan suasana ini dengan bilang "DUH SOALNYA GILA YA SUSAH BANGET" akhirnya temen di belakang gue, depan gue, samping gue pada bilang "IYA WOY GILA SOALNYA SUSAH BANGET ANJR**" sontak pada gaduh semua, memaki-maki soal Matematika tadi. Gaduh banget padahal masih di dalam kelas dan pengawas masih mengumpulkan soal dan lembar jawaban. Pengawasnya aja sampe geleng-geleng denger betapa gaduhnya ruangan gue. Gue yakin pasti dia udah cap SMAN 78 sebagai "sekolah gaduh" /suudzon banget ya gue/. Akhirnya teman gue berinisiatif dengan mendiamkan ruangan gue dengan ngomong "SSSTTT..." akhirnya semua nyadar kalo pengawasnya lagi geleng-geleng. Hahahaha. Priceless banget momen abis UN Matematika itu.

Akhirnya semuanya berusaha buat ngelupain tragedi Matematika itu dan fokus ke pelajaran selanjutnya, Kimia. Ya, habis Matematika terbitlah Kimia. Rasa was-was takut kalo soal Kimia nanti bakal kayak soal Matematika tadi pun bermunculan, tapi semuanya tetap fokus belajar di depan ruang ujian.

Bel pun berbunyi lagi, tanda masuk ruang ujian. Soal dibagikan. Bel berbunyi. Dan ya bener aja, emang susah tapi masih bisa dikerjakan sih gak kayak Matematika tadi. Ada beberapa soal yang menurut gue tipe soal SBMPTN. Ada satu soal yang mencampurkan materi Hidrolisis dan materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Ada soal yang menanyakan rumus monomer dari nilon 6,6. Iya, gue tau. Gue tau kalo monomer dari nilon 6,6 itu asam adipat dan heksametilendiamina, tetapi yang ditanyakan oleh soal itu adalah rumus struktur dari asam adipat dan heksametilendiamina.
Brb nelen asam adipat sama heksametilendiamina.
Selain itu, ada soal yang nanyain tentang kegunaan nitrobenzena. Iya, gue tau. Gue tau kegunaan nitrobenzena itu sebagai bahan peledak, tetapi yang ditanyakan oleh soal itu adalah 3 kegunaan nitrobenzena, dan kalo gak salah pilihan jawabannya gak ada yang menyinggung bahan peledak.
Brb ledakin nitrobenzena.
Udahlah macem macem pokoknya.

Oh iya ada satu soal yang paling gue inget. Pertanyaannya "Manakah usaha yang tepat untuk melindungi hiasan rumah yang terbuat dari besi dari korosi?" Jawabannya macem-macem, ada pilihan "melapisi dengan aluminium," "melapisi dengan timah (gue lupa ini timah atau bukan)," sampai "mengecat dengan oli." Dengan lugunya, gue menjawab pilihan jawaban "mengecat dengan oli."

Sehabis ujian, gue langsung nanya temen gue, "Eh tadi pertanyaan yang ada hiasan rumah itu lo jawab apa?" "Kalo gue sih jawabnya melapisi dengan aluminium, lo jawabnya apa?" "Lah kok melapisi dengan aluminium sih? Setau gue, seharusnya mengecat dengan oli deh, gue sih jawabnya itu." "HAH? HAHAHAHAHAHAHAHAHA" oke itu memalukan sekali ya, tapi setau gue jawabannya mengecat dengan oli kok :( akhirnya pas di kantin gue mendengar pembicaraan anak SCI yang kebetulan membicarakan pertanyaan tentang hiasan rumah itu dan gue mendengar salah satu dari mereka berbicara, "Jawabannya melapisi dengan aluminium kan? Yes gue bener" dan gue langsung merasa sangat sangat bodoh saat itu :)

Hari kedua berakhir dengan suram dan berlangsung hari ketiga.

YEAY HARI TERAKHIR! Perasaan temen-temen gue bermacam-macam saat hari itu, mulai dari senang karena H-beberapa jam menuju liburan, sampai ada yang takut karena beberapa dari mereka memikirkan satu pelajaran yang sangat menakutkan. FISIKA. Sangat menakutkan. Singkat cerita, bel tanda masuk berbunyi dan gue mulai mengerjakan soal Fisika. Susah. Baru sampai nomor 2 dan gue gak dapet-dapet jawabannya. Itu soal tentang vektor arah gitu deh. Terus beda gitu soalnya dari soal TO, kalo belok belok gitu bukan cuma dikasih tau arahnya tapi dikasih tau pake pake sudutnya. Contohnya "Ani berbelok ke arah tenggara sebesar 37 derajat" gitu terus panjang soalnya. Ada kali gue stuck 10 menit di soal itu. Merasa gak bisa-bisa, akhirnya gue skip aja. Lumayan lancar sih, walaupun di 5 menit terakhir gue masih kosong 3 soal akhirnya gue dapet juga jawabannya. Lumayan dibanding Matematika.

Pelajaran terakhir. Bahasa Inggris. Gue bisa mendeskripsikan dengan satu kata. RANCU. Banyak soal yang jawabannya bisa banyak, terus ada soal listening yang nanya "Gambar mana yang disebutkan di dialog tersebut?" pilihan jawabannya ada dongkrak mobil, mesin tambal ban, pokoknya yang berbau otomotif gitu deh. Duh. Mana gue tau bahasa Inggrisnya dongrak mobil atau mesin tambal ban?

Udah ah. Yang penting UN selesai! Yeay! Sehabis UN selesai, semua anak kelas XII disuruh turun ke lapangan buat briefing wisuda sama doa bersama. Asik. Liburan. Sehabis briefing pun gue langsung jalan-jalan ke Central Park. Azeekkk. Good bye kelas XII.

Ada waktu sekitar seminggu untuk liburan sebelum program intensif O-Friends buat SBMPTN dimulai. Seminggu itu kerjaan gue cuma tidur sama jalan-jalan. Hari Kamis nya, gue jalan-jalan ke Jungle Land. Puas-puasin main sebelum the next fight yaitu persiapan SBMPTN dimulai lagi.

Singkat cerita, di liburan antara selesainya UN dan pengumuman kelulusan itu gak kerasa kayak liburan. Setiap hari intensif SBMPTN, kadang-kadang ada tambahan pelajaran. Nantinya gue bakal jelasin lebih lengkap tentang SNMPTN dan persiapan SBMPTN di Cerita Perjuangan Kelas XII: SNMPTN dan SBMPTN 2014 kok! Hehehe :)

Hari demi hari berlalu sampai H-1 pengumuman kelulusan SMA 2014. Sore di hari itu, diumumkanlah 25 peraih nilai UN SMA tertinggi 2014. Dengan deg-degannya gue buka link beritanya... Liat peringkat 1 bukan nama gue, yah gapapa lah... Wow, ternyata di peringkat ke-15 ada temen sekolah gue! Selamat siswa SMAN 78 akhirnya ada di peringkat nasional! Terus melihat sampai peringkat 25.... ternyata gak ada nama gue :") sedihnya bukan main. Mungkin target gue buat menjadi peraih nilai UN tertinggi se-Indonesia emang ketinggian kali ya. Gue drop banget, udah kayak gak ada semangat hidup cuma gara-gara nama gue gak tercantum di daftar 25 peraih nilai UN SMA tertinggi 2014. Lebay.

Besoknya, hari-H pengumuman kelulusan SMA 2014. Gue udah tau gue lulus karena pas gue otw sekolah, di web sekolah udah ada pengumuman kelulusan, tapi cuma sebatas lulus atau enggak. Yah.. kalo lulus atau enggak mah pasti semuanya lulus lah, pikir gue dengan songongnya. Niat gue ke sekolah cuma buat bayar uang wisuda sama buat tau NEM gue doang.

Sesampainya di sekolah, gue langsung ke komite sekolah buat bayar uang wisuda, terus ketemu temen-temen terutama yang gak bimbel sama gue karena udah lama banget gak ketemu. Pengumuman di sekolah agak ngaret gitu, tadinya jam 9 tapi sampe kalo gak salah jam 10 belom mulai juga. Akhirnya mulai kalo gak salah sekitar jam 10 lebih dan saat itu diumumin rata-rata UN sekolah baik yang IPA maupun yang IPS, sama peringkat SMAN 78 Jakarta di Jakarta Barat dan di DKI Jakarta. Alhamdulillah di angkatan gue, peringkat sekolah overall naik. What an improvement! Selamat untuk 78 2014 :)

Bagaimana gue bisa tau NEM gue? Jadi ada temen gue diem-diem foto nilai UN semua siswa gitu di ruang wakil kepala sekolah, terus akhirnya dia dirubungin orang-orang yang pingin tau nilai UN masing-masing karena nilai UN nya gak dikasih tau sama sekolah di hari itu. Iseng-iseng gue nanya.

"Eh nilai gue berapa?"
"Bentar ya Cup, gue cek dulu"
........
"CUP! NEM LO 56.40! GILA! LO KAYAKNYA RANKING 26 SE-INDONESIA DEH!"
"HAH DEMIAPA COBA GUE LIAT!"
.........
"OH IYA ALHAMDULILLAH YA ALLAH!"

Sumpah. Gak nyangka. Gue kembali membuka link daftar 25 peraih nilai UN tertinggi. Gue liat di peringkat 25, jumlah nilai UN nya 56.60 dan jumlah nilai UN gue 56.40 :") senang dan terkejut juga. Selain itu, gue juga terkejut melihat nilai per-bidang studi:


  • BAHASA INDONESIA: 9.60
  • BIOLOGI: 9.25
  • MATEMATIKA: 9.75
  • KIMIA: 9.75
  • FISIKA: 9.25
  • BAHASA INGGRIS: 8.80
Yang bikin gue terkejut adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan Kimia. Nilai gue setiap TO selalu jeblok di Bahasa Indonesia. Nilai TO Bahasa Indonesia gue paling tinggi cuma 8.00 kalo gak salah. Dan Allah ngasih gue nilai segitu. Makasih ya Allah :") untuk Matematika dan Kimia, gue mencoba mengingat bagaimana hari kedua UN. Mata pelajarannya Matematika dan Kimia, dan gue merasa hari itu gak berakhir dengan baik, tetapi Tuhan ternyata berkehendak lain. Matematika gue ternyata cuma salah 1 soal, padahal gue ngasal 3 soal dan semua yang gue kerjakan belum tentu semuanya benar. Kimia gue ternyata cuma salah 1 soal dan gue yakin salahnya pasti di soal hiasan rumah itu (coba baca kembali tulisan gue saat hari kedua UN) dan gue gak bakal nyangka selain itu, semua jawaban gue bakal benar. Terima kasih ya Tuhan :")

Ternyata, kejutannya gak berakhir disitu. Gue peraih nilai UN tertinggi kedua di sekolah setelah teman gue yang meraih peringkat ke-15 nilai UN tertinggi se-Indonesia. Bener-bener gak nyangka setelah kesusahan bakal ada kejutan kayak gini. Alhamdulillah :)

Beberapa tips bagi kalian untuk persiapan UN:

  • Cari kisi-kisi UN untuk tahun kalian, kalau belum ada coba pake kisi-kisi UN tahun sebelumnya karena gak bakal banyak berubah
  • Dari kisi-kisi itu, coba kalian list materi mana yang kalian belum kuasai dan pelajarilah materi yang belum kalian kuasai tersebut
  • Kerjakan soal-soal dari setiap materi yang ada di kisi-kisi tersebut
  • Perbanyaklah ikut try out, baik try out sekolah, try out bimbel, maupun try out di luar sekolah dan bimbel untuk mengukur kemampuan
  • Sehabis ikut try out, mintalah kunci jawaban dan periksalah jawaban kalian. Introspeksi di materi mana salah kalian, dan coba pelajari lagi
  • Udah belajar? Udah ikut try out? Udah belajar dari kesalahan kalian saat try out? Ora et labora. Kalo udah semua, tinggal berdoa :) bagi yang Muslim silakan melakukan sholat dhuha, sholat tahajjud, dan sholat hajat dan perbanyaklah doa sehabis sholat
  • Sebelum hari-H (H-1), banyak yang menyarankan jangan belajar lagi. Itu sih tergantung kalian persiapan yang kalian lakukan sudah cukup atau belum. Gue pribadi tetap belajar kok karena gue merasa belum cukup persiapannya, asal otaknya jangan sampe kecapekan ya!
Demikian post gue tentang pengalaman pribadi gue di Ujian Nasional SMA 2014. Selanjutnya gue juga akan ngepost cerita gue di SNMPTN 2014 & SBMPTN 2014. Maaf kalau ada kalimat-kalimat yang menyinggung. Semoga post ini berguna bagi kalian ya! :)

Friday, March 09, 2012

High school life

Hai semua. Ok ini terlalu lama gue ga post anything di blog gue.

So guys, gue lulus SMP tanggal 4 Juni 2011 dengan NEM UN 37,35 atau dgn rata rata 9,33. Lumayan lah; Bahasa Indonesia 9.00, Bahasa Inggris 9.60, Matematika 9.50, IPA 9.25.

Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan, gue dapet berita menggembirakan lagi. Gue keterima di SMA Negeri 78 Jakarta! Ini agak beda dengan waktu gue lulus SD. Gue harus berusaha nyari SMP dimana-mana lama banget tapi ga dapet dapet juga, dan itupun ga dapet SMP Negeri -_-

Awalnya ya harus beradaptasi dengan hal hal berikut ini:
  • Bangun jam setengah 5 pagi
  • Sekolah jauh dari rumah, kurang lebih 20 km (gabisa minta tolong siapa siapa kalo ada tugas yg ketinggalan)
  • PR-PR nya itu......gakuat masbro.
  • Peraturan yang beda jauh dengan peraturan di Isvill
  • Target gue kelas 12 nanti kan dapet SNMPTN Undangan, ya harus ngejar nilai gila-gilaan
Yah kurang lebih seperti itu hidup anak SMA baru. Ga kerasa udah menginjak semester 2. Gue ceritain semester 1 nya dulu yak.

Semester 1 di 78 itu, kalo kata guru guru sih semester untuk mengejar jurusan (emang iya sih). Di semester 1 gue belong ke kelas X-C. Gue dapet banyak temen baru dan kita bertukar pengalaman tentang bersekolah di Jakarta dan Tangerang (-_-)

Ini foto foto gue sama anak X-C waktu classmeeting Desember 2011.






Terus puncak feeling gue semester 1 adalah pembagian raport tanggal 21 Desember 2011. Pagi pagi gue di telepon sama nyokap gue, dia bilang "Semua nilai tuntas kecuali Kimia, 73." Sontak gue lgsg seperti "WTF?!?! Does that really mean gue ga bisa masuk IPA murni?!" Ohiya gue ceritain dulu, 78 itu beda dengan SMA lain yang penjurusan masuk IPA/IPS nya di kelas 11 semester 1, kalo 78 itu kelas 10 semester 2. Kalo mau masuk IPA, indeks prestasi (IP) Biologi 1, Kimia 1, dan Fisika 1 harus tuntas (76 atau lebih). Kalo mau masuk IPS, IP Ekonomi 1, Geografi 1, dan Sosiologi 1 juga harus tuntas. Kalo misalnya mata pelajaran yang diminati (IPA/IPS) itu ada yg ga tuntas ya harus di pending dulu permintaannya, jadi anak kelas netral di semester 2 itu dan kita harus ikut klinik mata pelajaran yang ga tuntas itu untuk menuntaskan nilainya. Ok balik ke cerita raport gue. Sepanjang hari itu gue galau, lalu gue menceritakan feeling gue ini ke beberapa anak kelas X-C. Salah satu dari mereka bilang "Ah masa sih lo ga masuk IPA murni? Nyokap lo bilangnya nilai akhir kali, bukan IP. Lagipula emang si Ma'am Yuli ga ngasitau lo masuk mana?" Terus saat itu juga gue telepon nyokap gue. Gue nanya "Ma itu yg Kimia 73 nilai akhir atau IP?" tapi nyokap gue kurang ngerti gitu, yaudah gue tanya lagi "IP Kimia 1 nya berapa?" "Oh kalo IP Kimia 1 nya pas 76, jadi Nanda masuk IPA gak kalo gitu" Dan conversation tersebut menjadi hening sejenak. Perasaan galau gue dari pagi pun kayak terbakar. Hilang. Terus gue jawab "Masuk ma kalo 76". Alhamdulillah gue resmi menjadi anak IPA.

Besoknya, tanggal 22 Desember 2011. Pasti temen sejati gue tau deh itu hari apa. Maksud gue bukan hari Kamis nya, tapi itu adalah hari ulang tahun gue yg ke-14 :p



eh screenshot twitter ga terlalu keliatan -_-

Hari itu juga hari pengisian KRS (Kartu Rencana Studi), dimana kita bisa milih paket pelajaran yang mau kita ambil di semester berikutnya. Gue milih paket A1, isinya Biologi 2 (4 SKS), Fisika 2 (4 SKS), Pendidikan Agama 2 (2 SKS), English 2 (4 SKS), TIK 1 (2 SKS), Olahraga 1 (2 SKS), dan PKn 1 (2 SKS). Kado terindah gue ya mungkin itu, masuk IPA. Alhamdulillah :)

Terus gue juga mau cerita semester 2 nya. Pagi pagi tanggal 9 Januari 2012, gue siap siap ke sekolah. Pas nyampe di sekolah, gue langsung pergi menuju papan banyak kertas bertuliskan "PERUBAHAN ROMBONGAN BELAJAR KELAS X SEMESTER 2". Langsung gue cari nama gue, gue gamau lama lama disitu juga soalnya disitu rame banget bangetan terus papannya took place di tempat yang ga banget juga; di koridor yang sempit -_- alhamdulillah ga susah susah banget nyari nama gue soalnya nama gue ada di kertas yang pertama, kelas X IPA A. :) Gue juga harus adaptasi lagi sama orang orangnya soalnya dikit banget yang udah gue kenal sebelumnya. Yang dari X-C juga cuma gue & Muthiah -_- ya syukurlah adaptasinya juga ga butuh waktu terlalu lama.

Ini foto foto gue dan temen temen X-A gue, tempat fotonya di ruang fisika 3.01 sebelum sholat jum'at hahahaha.





Udah yah segini dulu postnya. Been working on this for about 1,5 hours....

Monday, July 18, 2011

Heartbreak

Heartbreak is an odd kind of pain because you are not dying. You are not even sick. You are perfectly fine, yet you hurt so much that you can't even breathe. You can't sleep, and you can't stop the tears from falling. You may eat too much. You may not eat at all. Non-smokers light up. Non-drinkers find a bar. A broken heart is one of the world's greatest equalizer because it can turn even the sweetest angel into a freaking devil.





-leilockheart.tumblr.com